Halo, apa kabarmu? Aku harap kamu dalam kondisi yang luar biasa setiap harinya. Bagaimana denganku? Setelah hari itu aku berusaha baik. Namun, harus aku akui, lepas darimu bukanlah hal mudah. Kenapa? Memori itu terus berdatangan. Terus menghantui pikiran ini, padahal aku tak pernah berharap untuk hal itu kembali. Kenangan manis saat kita bersama itulah yang membuatku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku sendiri tak mampu menghapuskan itu, bagaimana kamu bisa mampu? Mungkin karena aku bukanlah yang terbaik yang pernah kamu dapatkan. Aku tak bisa menyangkal itu, aku bukanlah yang baik, bahkan, untuk kamu yang hebat. Pada akhirnya, harus aku akui, aku belum bisa melupakanmu. Karenanya, aku terus bertahan di sini, dan berharap akan keajaiban itu. Keajaiban apa? Apa lagi kalau bukan kembalinya "Kita".
Ya, "Kita", kamu dan aku, bersama
Tak bisa kuelak lagi, aku masih sayang, cinta, makanya terus berharap ada kesempatan lain. Kesempatan untuk mengulang masa-masa yang telah aku sia-siakan karena egoisme tak berujung.
Namun, apakah kamu merasakan hal serupa? Aku pun tak mengetahuinya, kamu sudah pergi, jauh. Dalam mimpiku tiap malam, kamu selalu di situ, tapi tak bisa kugapai. Halusinasi antiklimaks yang membuatku terbangun dengan rasa bersalah dan tak berdaya.
Teringat akan kebodohan dan kesalahanku yang tak menghargai kehadiran dan keindahan yang ada di depanku, yaitu kamu.