Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

10 Puisi untuk Ayah yang Menyentuh Hati

10 Puisi untuk Ayah yang Menyentuh Hati
Unsplash.com/Thought Catalog
Share Article

Sosok ayah memang nggak pernah bisa lepas dari perjalanan kehidupan yang saat ini sedang kamu jalani. Bagaimana kamu belajar menjadi pemimpin yang baik, menjadi orang yang penuh tanggung jawab, dan menjadi manusia tangguh dengan berkaca melalui cerminan tulus yang diberikan olehnya adalah hal yang nggak bisa kamu dapatkan dari siapa pun. 

Beliau lah yang bekerja keras dan membanting tulang demi terpenuhinya kebutuhan keluarga tanpa pernah mengeluh lelah. Kadang, kamu perlu meluangkan sedikit waktu yang kamu miliki hanya untuk sekadar mendengarnya berkeluh-kesah. Kamu juga bisa mengiriminya puisi atau kata-kata manis yang barangkali bisa menyentuh hatinya sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasanya terhadapmu selama ini. Nggak perlu bingung! Kumpulan puisi untuk ayah di bawah ini bisa kamu jadikan inspirasi, kok.

  1. Dari Hati untuk Pahlawan Hidupku

    pinterest.com/mombrainclub/
    pinterest.com/mombrainclub/

    Meski suaramu

    Tak semerdu nyanyian lembut seorang ibu

    Kau membingkaiku dengan nada nada ketulusan

    Yang mengantarkan hatiku

    Menuju lembah tinggi

    Bernama kedamaian

     

    Meski sentuhanmu tak selembut belaian suci seorang ibu

    Namun dengan dekapanmu

    Ku terhangatkan dengan kasihmu

    Ku terlenakan

    Dengan cintamu

    Tangisku berderai

     

    Kala ku ingat ucapan indahmu menimangku

    Kala ku sentuh tubuh letihmu menjagaku

    Seperti karang menjaga debu pasir

    Kau jaga aku

    Kau lindungiku

    Dari kotoran raga dan jiwa yang kan basahiku

     

    Kau rela di terpa deburan buih

    Yang berlalu

    Demi aku

    Demi anakmu

    Seakan tak pernah lelah

    Kau hapuskan tetes air mataku

    Seakan tak pernah bosan

    Kau redamkan aku dari tangisan

     

    Ku urai hati ini

    Untukmu

    Untuk segalanya yang tlah kau labuhkan pada dermaga hidupku

    Hanya sebentuk puisi

    Dari ketulusan hati

    Untukmu bapakku

    Terima kasih

     

    ---Anonim

  2. Saat Ayah Tidur

    pinterest.com/vanessadonado/
    pinterest.com/vanessadonado/

    Saat ayah tidur

    Kutemukan seberkah kedamaian di sana

    Tepatnya di wajahmu yang senja itu

    Kulihat di sana begitu banyak sajak balada.

     

    Saat ayah tidur

    Kutemukan wajah kebebasan

    Laksana rindu terbebas dari kesepian menghujam

    Di sanalah kutemukan ia.

     

    Saat ayah tidur

    Saat itulah kau menjadi asli tanpa topeng tanpa drama

    Kau menjadi dirimu yang rapuh dan sakit

    Kau menjadi manusia wajar bukan robot.

     

    Saat ayah tidur

    Ingin rasanya kumenangis

    Mengingat sebait takdir kita yang sekarat

    Mati tidak mau menyerah tidak bisa.

     

    Saat ayah tidur

    Ayah kudongakkan wajahku ke atas biru

    Kumohon padaNya dengan khidmat

    Semoga aku selalu bersamamu

    Melihat tidurmu ayah.

     

    ---Anonim

  3. Pelita Hidup

    pinterest.com/bobbyg56490/
    pinterest.com/bobbyg56490/

    Ijinkan aku tersandar di bahumu meski aku sudah tak kecil lagi

    Berayun di lengan tanganmu yang kokoh

    Merasakan damai hidup yang tak terganggu

    Memiliki semua hal hanya dengan berada di pelukanmu

    Merasakan terang dunia meski malam telah tiba

    Teduh kedamaian kau sajikan

    Menguatkan tangan tak bertulang untuk bangkit

    Ku mohon aku selalu kecil agar kau tak menua

    Desah nafasmu kembali tak terdengar berat

    Detak jantung penuh semangat bagai langkah amukan kuda

    Aku mohon kau tetap ada

    Bersama denganku seperti hari lalu

    Memeluk erat menghujani dengan kecupan penawar sakit

     

    ---Anonim

  4. Rindu di Antara Hujan

    pinterest.com/tzutaly/
    pinterest.com/tzutaly/

    Tetes demi tetes air langit membasuh wajahku.

    Membasahi tanah yang telah kering.

    Bulir itu terpecah saat membentur bumi.

    Setiap tetesnya mengandung rindu yang terpendam.

    Tak dapat ku cegah segala rasa rindu yang kian mendesak.

    Ingin segera kucurahkan atau sekedar ku ucap.

    Mataku menerawang pada masa laluku.

    Di mana aku dengan tanpa segan melompat pada punggung tegapmu.

    Di mana aku dengan lantang meminta mainan

    atau sekedar merengek minta dibelikan permen lolipop.

     

    Aku tersenyum dalam lamunku.

    Masih ku ingat jelas garis tegas rahangmu menjadikan engkau semakin tampan.

    Masih pula ku rekam suara tegasmu namun penuh kasih.

    Atau tentang kekarnya tanganmu yang dengan mudah mengendongku

    atau sekedar menaikkan ku pada kursi yang tinggi.

    Aku mengingat kembali kecup bibirmu di pipiku.

    Terasa hangat hingga hatiku bergetar.

     

    Aku selalu tertawa kala kumis tipis yang terhias diantara hidung

    dan mulutmu menyentuh pipiku.

    Membuat aku geli hingga tertawa.

    Aku kembali teringat belai tanganmu di antara helaian rambutku

    mengantarkan aku pada alam mimpi.

    Akupun teringat kembali pelukkan hangatmu yang mendekap segala kesedihanku.

    Saat aku terjatuh ku lihat pancaran kekhawatiran di matamu.

    Dengan lembut kau ucapkan kalimat yang membuatku kuat.

    Engkau memberi pesan lewat semua katakatamu.

    Katamu aku tak boleh menjadi anak yang cengeng.

    Katamu aku harus menjadi anak yang kuat.

    Meski engkau terkesan galak namun semua itu menjadikanku kuat.

    Ayah…

    Aku menitipkan rindu ku ini pada ribuan tetes hujan.

    Tak usah kau khawatir, aku di sini baik-baik saja.

    Tak perlu kau cemas aku di sini selalu tersenyum.

    Untukmu ayah aku menitipkan rindu pada hujan yang menyejukkan ini.

    Akan segera kutelpon engkau ayah untuk sekedar berbagi cerita dan kabar.

    Meski kini kita jauh, setidaknya aku masih dapat memdengar suaramu. Merekam tawamu.

    Aku tau saat kita berbicara lewat telepon

    matamu berbinar cerah dan senyummu selalu terlembang.

    Karena aku pun demikian.

    Ayah….

    Rindu ini di antara derasnya hujan.

    Semoga tetesnya menyampaikan padamu.

    Ayah…

    Sayangku sebanyak tetes hujan ini.

    Tak terhitung.

    Ayah…

    Aku sayang ayah.

     

    ---Anonim

  5. Ayah

    Di setiap tetes keringatmu

    Di derai lelah napasmu

    Si penuhi kasih sayang yang luar biasa

    Demi aku kau rela disengat matahari

    Hujan pun tak dapat membatasimu

    untuk aku anakmu...

    Si setiap doamu kau haturkan segenap harapan

     

    Ayah...

    kan ku jaga setiap nasehatmu

    Di setiapnafas ku

    Di relung hati akan ku hangatkan nmamu

    Akan ku kobarkan semua impianmu

    Hanya untuk menikmati senyumu

    Di ufuk senjamu

    Ayah

     

    ---Anonim

  6. Ayah Segalanya Untukku

    pinterest.com/susieleigh3/
    pinterest.com/susieleigh3/

    Ayah...

    Beribu kata telah kau ucapkan

    Beribu cinta telah kau berikan

    Beribu kasih telah kau berikan

    Hanya untuk anakmu

     

    Ayah...

    Kau ajarkan ku tentang kebaikan

    Kau tunjukkanku tentang arti cinta

    Kau jelaskanku tentang makna kehidupan

    Dan kau mendidikku dengan sungguh kasih sayang

     

    Ayah...

    Betapa mulianya hati mu

    Kau korbankan segalanya demi anakmu

    Kau banting tulang hanya untuk anakmu

     

    Kini ku berjanji tuk semua kerja keras hanya untuk mu

    Ku berjanji tuk semua kasih sayangmu

    Dan ku berjanji untuk ketulusan hatimu

    Bahwa aku akan selalu menjagamu

    Aku akan selalu menyayangimu hingga akhir hidupku

    Terimakasih ayah untuk semua kasih sayangmu

     

    --- Clara

  7. Ayah, Kau di Mmana?

    pinterest.com/dominikasiemoni
    pinterest.com/dominikasiemoni

    Matahari enggan bersinar di bumiku yang selalu gelap

    Bidadari menjadi lusuh karena sayapnya tak lagi bisa berfungsi

    Jika keajaiban terjadi mungkin dia akan terbang pergi

    Hilang lenyap usaikan kisah tak layak dikenang

    Dunia menjadi tempat amukan kekejaman tanpa ampun menghampiri

    Sekuat apa aku menahan?

    Bisikan doa terpanjat terus ku pelihara agar meninggi

    Menembus awan-awan tebal terdengar hingga langit

    Sembilan usiaku kini, tanpa tiupan lilin dan potongan kue

    Tak aku kenal sosok lain selain bidadari yang kini tak elok lagi

    Senyum memudar dan tangan yang telah kasar

    Tidak ada sosok gagah pelindung peri kecil

    Mengais kasih dari tumpukan mayat yang mulai membusuk

    Dimanakah pelindung itu?

    Memanggil berlarian dia ke  penjuru semesta

     

    --- Anonim

  8. Pengorbanan Ayah

    pinterest.com/weheartitapp/
    pinterest.com/weheartitapp/

    Fajar telah menyapa pagiku

    Kau jadikan hatimu hari untuk pengorbanan

    Pengorbanan mencari rezeki

    Pengorbanan untuk mencari awal yang baru

    Kau ajarkan aku arti perjuangan

    Kau ajarkan aku arti kesuksesan

    Ayah, mungkin tanpamu aku tidak bisa seperti ini..

    Mungkin tanpamu aku tidak bisa berdiri di tengah-tengah impianku..

    Impian untuk meraih keberhasilan

    Impian untuk mencapai kemenangan..

     

    ---Anonim

  9. Pesan untuk Ayah

    pinterest.com/artnbed/
    pinterest.com/artnbed/

    Langit sepi tanpa bintang
    Seperti hatiku yang sepi dan gelap gulita
    Angin bertiup kencang di telinga
    Seperti bisikan cinta dari ayahku tersayang

    Aku berdoa dalam tangis mengingat ayah
    Aku teringat cerita dan nasehat dari ayah
    Aku teringat kenangan-kenangan bersama ayah
    Dalam doa kutitip pesan untuk ayah

    Rinduku, cintaku, dan kasihku untuk ayah
    Kusebut dalam doa agar malaikat menyampaikannya
    Ceritaku kini, kisah hari-hariku selama ini
    Kuceritakan lewat doaku untuk ayah

    Semoga engkau turut mendengar ceritaku
    Semoga pesanku sampai pada ayah
    Tidak ada pria yang dapat menggantikan ayah
    Hanya ayah yang terbaik dalam hidupku.

     

    ---Anonim

  10. Puisi Ayah

    pinterest.com/phlebotomies/
    pinterest.com/phlebotomies/

    Ayah aku tau engkau begitu lelahnya
    Engkau menghadapi kehidupan ini
    Namun engkau tak pernah mengeluh
    Tak pernah ada rasa jenuh dalam benakmu

    Berkorban dan berpeluh keringat
    Untuk kesuksesan anak-anakmu
    Mungkin lelah itu hilang
    Saat engkau melihat anakmu tersenyum

    Dengan senangnya
    Semangatmu terdorong lagi utuk hari esok
    Maafkan aku ayah
    Yang mengabaikan sayangmu

    Kini aku sadar
    Betapa mulianya engkau
    Tanpa meminta balasan apapun dariku
    Takkan ku lupa dengan pengorbananmu Ayah.

    --- Puisiku2015.blogspot.com

     

    Begitulah kira-kira puisi untuk ayah yang menyentuh hati pilihan Popbela, yang jelas semua sama-sama menggambarkan betapa hebatnya sosok ayah di mata anak-anaknya. Jangan lupa untuk selalu mengasihi keluarga terutama seorang ayah, ya! Berapa pun lamanya waktu yang kamu luangkan untuknya, nggak akan pernah bisa menggantikan segala hal yang telah ia beri untuk kamu.

Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More